Sore tadi, kuliah saya kedatangan seorang tamu. Tamu yang saya kenal sebenarnya.Dia adalah senior saya 3 tahun diatas saya. Beliau datang diundang buat mengisi seminar, seminar pendek atau kuliah tamulah istilahnya. Wirausaha judulnya, kebetulan saya duduk paling depan (tumben kali ini, biasanya dibelakang). Mata kuliah ini sebenarnya sangat menarik sekali menurut saya, beda dengan mata kuliah lainnya yg hanya mengajarkan ilmu yang sudah tertulis oleh penemunya.
saya hanya diam, diam duduk didepan. Tidak berkutik, karena kalau berkutilk pasti ada marabahaya yang bakalan menimpa saya. Slide demi slide saya perhatikan, ternyata jumlahnya 19 slide. haahahaha batin saya berkata yes cepat pulang, ternyata tebakan saya meleset. Pulang seperti biasanya :p
Di presentasinya dijelaskan ada 4 hal yang harus dipenuhi jika mau menjadi wirausaha.
- Modal
- Sehat
- waktu
- saya lupa, hehehehe
Tapi yang saya soroti bukan itu. syarat keempat diatas sudah mutlak memang diperlukan. Jangakan didunia wirausaha, dunia kerja dll pun sangat dibutuhkan. Sekarang zaman sudah canggih otomatis biaya kuliah juga mahal kan? bukan hanya universitas swasta saja yang mahal, negeripun sudah mulai mahal sekarang. Pertanyaannya, apakah dengan biaya kuliah yang mahal tersebut kita pantas menjadi wirausahawan? lebih baik investasi buat usaha kan?
Jawabannya, menurut saya tergantung. Tergantung mahasiswanya, silahkan berwirausaha tetapi jangan lupa bahwa kita harus benar-benar menguasai semua mata kuliah kita. Karena kenapa? bayangkan jika kita hanya mampu dalam bidang marketing. kita cuma bisa ngomong doang, ketika dikejar-kejar konsumen kita lari. Bayangkan ketika kita hanya bisa menjadi leader di tim tetapi tidak tahu seluk beluk pekerjaan dan teknisnya, kita bisa dibodohi sama pegawai kita, dsb. Hal itulah yang setidaknya menurut saya menjadi pandangan yang salah menurut saya. Belum lagim alasan semakin banyak lulusan S1 yang memenuhi bursa karir, berarti perekonomian indonesia belum bisa dibilang tumbuh. Hal itu salah besar menurut saya, apakah tolak ukur tumbuhnya perekonomian hanya dari sektor wirausaha? tidak adakah sektor lainnya. Justru kalau menurut saya, jika bekerja di BUMN itu bakal menambah pemasukan negara kan. Justru kalau kita memakai produk BUMN kita kita turut membantu pertumbuhan perekonomian kan?
Balik lagi keawal masalah mahasiswa dan wirausaha. Di kampus saya, kebetulan banyak sekali teman-teman yang membuka usaha mandirinya. Alhamdullilah mereka sudah mulai berkembang dan ada yang lagi dalam proses perkembangan. Jujur saya iri dengan mereka, kok bisa ya mereka seperti itu, semangatnya ? ketekunannya? pertanyaan itu menjadi tanda tanya besar buat saya. Tetapi dibalik itu menurut saya beberapa dari teman saya juga menyimpan masalah, masalah yang besar. Ya itu tadi lupa dengan kuliahnya, lupa dengan tanggung jawabnya. Justru karena masalah itu tadi kenapa saya tidak bisa menempatkan jiwa wirausaha dihati saya, karena belum ada yang bisa menjadi contoh teladan menurut saya. Bahkan yang lebih parahnya lagi, ada pandangan bukan pandangan sih, tetapi ada yang bilang "IPku sudah jeblok, mending wirausahalah daripada susah kuliah dapet nilai jelek". Subhanallah jelek sekali pemikiran itu. Itu yang membuat prihatin, lebih bagus kerja dengan kemampuan yang pas-pasan tetapi fokus daripada berwirausaha dengan nilai jelek. Memang IPK hanya mengantarkan ke meja wawancara, tetapi kalau IPK jelek dan tidak memenuhi standard apakah bisa maju ke meja wawancara? tentu tidak. Bahkan lebih parahnya lagi, ada yang mengandalkan wirausaha dengan harta orang tuanya. Masalahnya ya sama, tetap kuliah hanya untuk mendapatkan gelar sarjana dengan titel "S.xxxx" buruk bukan? Paradigma ini memang harus kita luruskan sebagai mana mestinya, apakah indonesia bisa berkembang dengan hanya jiwa berwirausaha tanpa adanya SDM yang berkecukupan?.
Jawabannya haruslah seimbang, kondisi ideal tersebut memang sangat diharapkan. Lebih bagus mengambil filsafat orang cina, Ketika anaknya lulus sekolah ditanya apakah mau melanjutkan sekolah lebih tinggi atau ikut dengan ayahnya berdagang?. Itu yang bagus, daripada menghabiskan APBN dunia pendidikan mending ikut program wirausaha pemerintah. Atau sekalian saja masuk disekolah bisnis, sudah banyak kok di Indonesia.
Saya sendiri juga ingin berwirausaha, siapa sih yang tidak ingin menggaji orang dan memberi nafkah? selain mengurangi jumlah pengangguran dan berpahala tentunya itu adalah cita-cita saya dihari tua nanti. Jadi intinya, janganlah selalu mengatakan wirausaha adalah jalan keluar dari kemelut hidup, justru wirausaha tadi banyak tantangan dan pekerjaan besar yang harus diselesaikan, jangan bangga menurut saya menjadi wirausahawan, toh yang kerja di perusahaan besar juga tidak kalah hebatnya. Meskipun mereka digaji bukan memberi gaji tetapi setidaknya itu adalah cita-cita mereka dan itu sudah menjadi pilihan hidup. Saya cuma ingin melihat satu orang saja yang saya kenal, bukan saya baca dari CVnya kalau dia adalah orang yang mempunyai IPK > 3.5 Pernah kerja di perusahaan besar(dalam/ luar negeri) lalu keluar sepuluh tahun karena bosan terus membangun usaha dengan bekal ilmu yang didapatnya selama kuliah dan bekerja, punya relasi yang banyak dan yang terakhir tidak sombong dan rendah hati. Kalau saya sudah kenal orangnya, saya pasti mengidolakan dia setelah Rasul dan Orang tua saya.


No comments:
Post a Comment